Cari Blog Ini

Senin, 12 Maret 2012

PENDUGAAN DAMPAK LINGKUNGAN

Proses pendugaan dampak lingkungan melibatkan beberapa aktivitas, yaitu:

(1). Pemahaman terhadap landasan legal dan persyaratan prosedural bagi proses pendugaan

(2). Deskrispsi rona lingkungan tempat berlangsungnya kegiatan/proyek. Variabel pendugaan dampak mengacu kepada karakteristik lingkungan yang digunakan untuk mendeskripsikan rona lingkungan awal dan karakteristik lingkungan yang akan terkena dampak.

(3). Pendugaan dampak. Besarnya dampak dari setiap alternatif kegiatan proyek dievaluasi terhadap masing-masing variabel lingkungan harus diduga dan diinterpretasi.

(4). Mengagregasikan informasi dampak akibat dari setiap alternatif kegiatan proyek. Berdasarkan informasi agregat ini, sambil mempertimbangkan aspek teknis dan ekonomis, dilakukan pemilihan alternatif kegiatan proyek.

(5). Penyiapan laporan pendugaan dampak lingkungan yang menjelaskan prosedur dan temuan-temuan yang diperoleh.

Pemilihan dan penggunaan variabel pendugaan dampak yang tepat menjadi komponen penting dari proses pendugaan dampak lingkungan. Variabel-variabel tersebut mencerminkan ciri-ciri penting dari aktivitas-aktivitas yang melibatkan deskripsi rona lingkungan, penilaian dan pendugaan dampak, dan pemilihan kegiatan proyek. Dalam kaitannya dengan variabel-variabel tersebut, “karakteristik lingkungan” dapat dibagi menjadi fisiko-kimia, biologi, estetika, dan sosial-ekonomi. Misalnya variabel pendugaan dampak akibat Proyek Pembangunan Sumberdaya Air, dapat dikelompokkan menjadi kualitas lingkungan, kesejahteraan sosial, dan pengembangan wilayah. Kualitas lingkungan berkenaan dengan lingkungan alami dan meliputi variabel fisiko-kimia, biologis, dan estetika; kesejahteraan sosial dan pengembangan wilayah diarahkan kepada lingkungan buatan, dan variabel-variabel sosial-ekonomi.

Empak kategori variabel pendugaan dampak adalah terrestrial, akuatik, udara dan human-interface. Kategori terrestrial dan akuatik mencakup variabel fisiko-kimia dan biologis; kategori udara meliputi variabel fisiko-kimia; dan kategori human-interface meliputi variabel estetika sesuai dengan sumberdaya noise, sejarah dan arkheologis.

Untuk setiap variabel pendugaan dampak, disajikan informasi mengenai “DEFINISI”, pengukuran & pengamatan yang diperlukan untuk menyusun dan menetapkan rona awal; dan penilaian serta pendugaan dampak. Kurva fungsional juga disajikan untuk banyak variabel pendugaan dampak. Kurva fungsional ini menyajikan hubungan empiris antara hasil pengukuran obyektif variabel pendugaan dampak dengan hasil evaluasi subyektif (baik hingga jelek) variabel rona lingkungan. Hasil pengukuran obyektif digunakan sebagai sumbu-X , sedangkan indeks kualitas subyektif sebagai sumbu-Y. Indeks kualitas disajikan dengan sekala 0.0 hingga 1.0; dimana 0.0 menyatakan kualitas rendah atau kondisi lingkungan jelek/buruk dan 1.0 menyatakan kualitas lingkungan yang baik atau kondisi lingkungan yang diperlukan/diinginkan.

KATEGORI: UDARA

SUB-KATEGORI: KUALITAS

VARIABEL : KARBON MONOKSIDA (CO).

DEFINISI DAN PENGUKURAN KONDISI AWAL:

Karbon monoksida adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa, yang terbentuk oleh pembakaran bahan bakar berkarbon. Gas ini perupakan polutan udara yang tersebar luas dan paling lazim dijumpai. Atas dasar tonasenya, total emisi CO ke dalam atmosfer melebihi total dari semua polutan udara lainnya. Mayoritas CO atmosferik dihasilkan oleh proses pembakaran yang tidak sempurna bahan berkarbon yang digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor, penghangat ruangan dan industri. Baku mutu udara ambient juga mencantumkan gas CO. Dampak buruk terhadap kesehatan telah diamati terjadi pada konsentrasi CO sebesar 12 - 17 mg/M3 selama delapan jam. Baku mutu udara ambient (USA) untuk CO adalah:

1. Konsentrasi maksimum dalam 8 jam tidak melebihi sekali setahun = 10 mg/m3 atau 9 ppm

2. Konsentrasi maksimum dalam satu jam tidak melebihi sekali setahun = 40 mg/m3 atau 35 ppm

3. Konsentrasi CO dapat diukur secara kontinyu dengan menggu-nakan teknik spektroskop infra-merah non-dispersif.

PENDUGAAN DAMPAK

Sumber utama gas CO adalah emisi kendaraan bermotor, termasuk mobil dan peralatan bermesin lainnya. Untuk mengukur peubah ini dalam kondisi lingkungan yang ada, tim interdisiplin harus mengumpulkan informasi yang ada tentang konsentrasi CO di lokasi proyek, demikian juga data tentang inventarisasi emisi CO di daerah sekitarnya. Konsentrasi CO yang ada dapat dibandingkan dengan baku mutu udara ambient yang diberlakukan.

Pendugaan dampak akan melibatkan pertimbangan-pertimbangan kontribusi potensial proyek terhadap emisi regional untuk gas CO. Hal ini lazim disebut sebagai pendugaan dampak sekala-meso. Faktor emisi CO untuk kendaraan bermotor dan aktivitas pembukaan lahan dapat digunakan. Kontribusi proyek terhadap emisi regioanl dapat dinyatakan dalam bentuk persentase, dan kurva fungsional berikut ini dapat dipakai. Harus juga dipertimbangkan kemungkinan timbulnya gas CO dari pertumbuhan sekunder di lokasi proyek, termasuk pertumbuhan penduduk dan perkembangan industri.

Kalau peningkatan emisi regional CO melebihi 5%, atau kalau konsentrasi CO yang ada dalam atmosfer adalah marginal dalam kaitannya dnegan baku mutu udara, maka harus dilakukan perhitungan khusus konsentrasi CO di permukaan tanah (ground-level). Hal seperti ini lazim disebut dengan “pendugaan dampak sekala mikro”. Persamaan difusi atmosferik telah tersedia dari berbagai sumber ilmiah, termasuk Turner (1969).

Konsentrasi ground-level yang dihitung pada kondisi meteorologis “worst” harus dibandingkan dengan baku mutu udara ambient. Kurva fungsional untuk pendugaan dampak sekala mikro disajikan berikut ini. Bentuk kurva fungsional tersebut disebabkan oleh fakta bahwa karboksi-haemoglobin terbentuk dalam darah dengan kecepatannya merupakan fungsi dari konsentrasi CO. Biasanya dianggap merupakan respon yang reversibel-sempurna, hingga terjadi efek yang membahayakan kesehatan (sekitar 10 ppm) kurva fungsional hampir datar. Pada tingkat konsentrasi toksik (sekitar 40 ppm) kurva akan menurun drastis.

KURVA FUNGSIONAL

INDEKS Kualitas

1.0

0.67

A

0.33 B




C

0.00










0 2.5 5.0

Peningkatan emisi regional (%)

A = Laporan pendugaan dampak meso-scale

B = Laporan pendugaan dampak meso-scale, memperhatikan pelaksanaan pendugaan dampak meso-scale

C = Laporan pendugaan dampak meso-scale, melaksanakan pendugaan dampak meso-scale


Indeks Kualitas

1.0




0.8

0.6

0.4

0.2




0.0

0 10 20 30 40 50

Konsentrasi satu jam (ppm)




PERHATIAN KHUSUS

Aplikasi konsep meso-scale harus didasarkan pada pembahasan dengan BAPEDALDA. Pendugaan dampak meso-scale mungkin tidak diperlukan untuk kebanyakan proyek-proyek pembangunan sumberdaya air.

SUB-KATEGORI: KUALITAS

VARIABEL : HIDRO-KARBON

DEFINISI DAN PENGUKURAN KONDISI AWAL:

Hidrokarbon menunjukkan beberapa tipe senyawa organik yang dilepaskan dari sumber-sumber alamiah dan buatan manusia. Emisi kendaraan bermotor hampir separo dari kompleks campuran hidrokarbon yang dilepaskan ke atmosfer; dan hidrokarbon sisanya berasia dari sumber alamiah seperti tumbuhan darat dan vegetasi hutan. Komponen-komponen khusus dari campuran hidrokarbon adalah methan, ethane, propane, dan turunan dari senyawa-senyawa organik alifatif dan aromatik lainnya. Hidrokarbon sangat penting terutama karena mereka dapat bereaksi dengan oksida-oksida nitrogen membentuk oksidan foto-kimia (smog). Efek langsung keberadaan hidrokarbon dalam atmosfer hanya terjadi kalau konsentrasinya tinggi (sekitar 1000 ppm atau lebih), konsentrasi tinggi ini akan mengakibatkan gangguan pada penyerapan oksigen. Efek dari pembentukan oksidan fotokimia terjadi pada konsentrasi yang lebih rendah; misalnya, hidrokarbon non-methan pada 200 mikrogram per meter kubik (atau 0.30 ppm) selama TIGA jam (pukul 06.00 - 09.00), konsentrasi oksidan fotokimia hingga 200 Ug/m3 (0.10 ppm) dapat mengakibatkan gangguan 2-4 jam kemudian dan bertahan selama satu jam. Oksidan fotokimia pada 130 mg/m3 selama satu jam secara rata-rata telah mengganggu penampilan para atlit. Baku mutu udara ambien dari pemerintah Federal USA untuk hidrokarbon adalah sbb:

1. Konsentrasi maksimum selama tiga jam (06.00 - 09.00) tidak lebih sekali dalam setahun = 160 mg/m3 atau 0.24 ppm.

2. Hidroharbon dapat diukur secara semi-kontinyu dengan menggunakan teknik gas kromatografi.

PENDUGAAN DAMPAK

Sumber utama hidrokarbon dalam hubungannya dengan proyek sumberdaya air adalah emisi dari lalulintas kendaraan bermotor, termasuk otomobil dan peralatan mesin konstruksi. Untuk mengukur peubah ini dalam kondisi lingkungan yang ada maka timinterdisiplin harus menghimpun informasi yang ada tentang konsnetrasi hidrokarbon di lokasi proyek, serta mengikhtisarkan data catatan emisi polutan ini di sekitar lokasi. Konsentrasi hidrokarbon yang ada dapat dibandingkan dengan baku mutu kualitas udara ambien yang berlaku di daerah dan yang diberlakukan oleh pemerintah Pusat. Pendugaan dampak akan mempertimbangkan kontribusi proyek terhadap emisi hidrokarbon regional. Hal seperti ini disebut pendugaan dampak sekala meso. Faktor emisi hidrokarbon untuk kendaraan bermotor dan aktivitas pembukaan lahan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan. Kontribusi proyek terhadap emisi regional dapat dinyatakan sebagai persentase, dan kurva fungsional di bawha ini dapat digunakan. Harus dipertimbangkan pula hidroharbon yang dihasilkan oleh pertumbuhan sekunder di lokasi proyek, termasuk peningkatan populasi penduduk dan perkembangna industri.

Kalau persentase peningkatan emisi hidrokarbon regional lebih dari 5% , atau kalau konsentrasi hidrokarbon dalam atmosfer telah mendekati baku mutu udara ambient , maka harus dilakukan perhitungan khusus konsentrasi hidrokarbon di permukaan tanah. Hal seperti ini lazimnya disebut pendugaan dampak sekala mikro. Model persamaan difusi atmosferik telah tersedia di berbagai referensi ilmiah, termasuk Turner (1969). Hasil perhitungan konsentrasi hidrokarbon atmosfer di permukaan tanah pada kondisi meteorologis “worst” harus dibandingkan dengan baku mutu udara ambient.

Kurva fungsional untuk pendugaan dampak sekala mikro disajikan di bawah ini (Battelle Environmental Evaluation Systems, 1972). Bentuk kurva fungsional berhubungan dengan derajat sampai dimana peningkatan produksi smog. Kualitas lingkungan menurun dengan cepat kalau kondisinya mendekati pembentukan smog (0.15 ppm hingga 0.25 ppm selama 3 jam secara rata-rata). Dalam kisaran ini akan terjadi penurunan kualitas lingkungan secara tajam. Di atas konsentrasi hidrokarbon 0.25 ppm , kurva fungsional akan mendatar secara gradual hingga dampak marjinal akibat peningkatan konsentrasi hidrokarbon sangat kecil.

PERHATIAN KHUSUS

Aplikasi konsep sekala-meso harus berdasarkan pada pembahasan dengan kantor BAPEDAL. Pendugaan dampak sekala meso lazimnya tidak diperlukan pada kebanyakan proyek pembangunan sumberdaya air.

KURVA FUNGSIONAL (Sekala meso)

INDEKS Kualitas

1.0

0.67

A

0.33 B

C

0.00

0 2.5 5.0

Peningkatan emisi regional (%)

A = Laporan pendugaan dampak meso-scale

B = Laporan pendugaan dampak meso-scale, memperhatikan pelaksanaan pendugaan dampak meso-scale

C = Laporan pendugaan dampak meso-scale, melaksanakan pendugaan dampak meso-scale


Kurva fungsional (Sekala mikro)

Indeks Kualitas

1.0




0.8

0.6


0.4

0.2

0.0

0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5

Rataan tiga jam (06.00 - 09.00) (ppm)





SUB-KATEGORI: KUALITAS

VARIABEL : OKSIDA NITROGEN (NOx)

DEFINISI DAN PENGUKURAN KONDISI AWAL:

Oksida nitrogen bersama dengan hidrokarbon merupakan komponen kimia pokok dalam reaksi fotokimia yang mengakibatkan pembentukan oksidan fotokimia (smog). Berbagai jenis oksida nitrogen dapat terbentuk dalam atmosfer, termasuk oksida nitrat (NO), nitrogen dioksida (NO2), dan nitrous oksida (N2O). Istilah oksida nitrogen digunakan untuk menyatakan konsentrasi komposit atmosferik dari semua bentuk oksida nitrogen. Sumber utama oksida nitrogen dalam atmosfer adalah pembakaran suhu tinggi berbagai macam bahan bakar, dimana kendaraan bermotor menyumbangkan bagian terbesar dari semua emisi oksida nitrogen. Dampak buruk kesehatan terjadi kalau konsentrasi atmosferik 118 - 156 mg/m3, selama 24 jam rata-rata enam bulan, pada saat mana terjadi gangguan bronkhitis akut pada bayi dan anak-anak sekolah. Baku mutu udara ambient untuk oksida nitrogen adalah sbb:

Rataan tahunan = 100 mg/m3 atau 0.05 ppm

Oksida nitrogen dapat diukur dengan menggunakan teknik sampling gas-absorption dan prosedur kolorimetrik untuk analisisnya.

PENDUGAAN DAMPAK

Sumber utama oksida nitrogen dalam hubungannya dengna proyek pembangunan (sumberdaya air) adalah emisi dari kendaraan bermotor , termasuk otomobil dan peralatan konstruksi. Untuk mengukur peubah ini, di lingkungan yang ada, tim interdisiplin harus menghimpun informasi tentang konsentrasi oksida nitrogen di lokasi proyek, serta mengikhtisarkan data emisi di sekitar lokasi. Konsentrasi oksida nitrogen yang ada dibandingkan dengan baku mutu udara yang berlaku. Pendugaan dampak akan mempertimbangkan kontribusi proyek tehadap emisi oksida nitrogen regional. Hal seperti ini disebut pendugaan dampak sekala meso. Faktor emisi oksida nitrogen untuk kendaraan bermotor dan aktivitas pembukaan lahan dapat digunakan sebagai referensi. Kontribusi proyek terhadap emisi regional dapat dinyatakan sebgaai persentase, dan kurva fungsional di bawah ini dapat digunakan. Harus juga dipertimbangkan oksida nitrogen yang mungkin dihasilkan dari pertumbuhan sekunder di daerah proyek, termasuk pertambahan penduduk dan perkembangan industri.

Kalau persentase peningkatan emisi oksida nitrogen regional lebih dari 5% , atau kalau konsentrasi atmosferik telah mendekati batas ambang baku mutu udara, maka harus dilakukan perhitungan khusus konsentrasi oksida nitrogen di permukaan tanah. Hal seperti ini lazim disebut pendugaan dampak sekala mikro.

Kurva fungsional untuk pendugaan dampak sekala mikro disajikan berikut ini. Kurva ini didasarkan pada kenyataan bahwa pada umumnya konsentrasi oksida nitrogen di bawah 0.05 ppm (secara rata-rata) tidak menimbulkan gangguan kesehatan. Ekspose dengan konsentrasi yang lebih tinggi dapat menimbulkan gangguan respirasi/pernafasan akut. Pada konsentrasi yang lebih tinggi dari yang lazim terjadi dalam udara ambient (sekitar 0.05 ppm), oksida nitrogen dapat berfungsi sebagai agen toksik dan kurva fungsional mencerminkan penurunan kualitas lingkungan.

KURVA FUNGSIONAL (Pendugaan sekala meso)

INDEKS Kualitas

1.0

0.67

A

0.33 B

C

0.00

0 2.5 5.0

Peningkatan emisi regional (%)

A = Laporan pendugaan dampak meso-scale

B = Laporan pendugaan dampak meso-scale, memperhatikan pelaksanaan pendugaan dampak meso-scale

C = Laporan pendugaan dampak meso-scale, melaksanakan pendugaan dampak meso-scale

Kurva fungsional: Pendugaan dampak sekala mikro.

Indeks Kualitas

1.0




0.8

0.6

0.4

0.2

0.0

0 0.05 0.10 0.15 0.20 0.25

Rataan tahunan (ppm)




PERHATIAN KHUSUS

Aplikasi konsep sekala meso harus didasarkan pada pembahasan dengan BAPEDAL. Pendugaan dampak sekala mikro lazimnya tidak diperlukan dalam kebanyakan proyek pembangunan sumberdaya air.

SUB-KATEGORI: KUALITAS

VARIABEL : PARTIKULAT

DEFINISI DAN PENGUKURAN KONDISI AWAL

Partikulat adalah partikel padatan dan cairan halus yang tersuspensi dalam udara ambient. Ukuran diameternya berkisar 0.01 mikron hingga 100 mikron. Partikulat dalam atmosfer dapat bersumber dari alamiah dan sumber buatan. Hembusan angin berdebu alamiah menyediakan konsnetrasi partikulat “background”, sedangkan sumber-sumber buatan termasuk aktivitas konstruksi dan proses-proses industri. Dampak buruk kesehatan akibat partikulat dalam atmosfer telah diketahui untuk konsentrasi rataan tahunan 80 mg/m3. Partikulat dapat mengakibatkan gangguan bronkhitis, gangguan emphysema dan penyakit kardiovaskuler. Partikulat juga dapat menimbulkan masalah visibilitas yang serius. Bangunan logam dan baja dapat mengalami korosi akibat dari ekspose terhadap partikulat dan kelembaban udara. Baku mutu udara ambient pemerintah Federal USA untuk partikulat adalah sbb:

Baku mutu protektif primer untuk kesehatan publik:

  1. Rataan geometrik tahunan = 75 mg/m3
  2. Konsentrasi maksimum 24 jam tidak lebih sekali dalam setahun = 260 mg/m3.

Baku mutu protektif sekunder untuk kesejahteraan publik:

Rataan geometrik tahunan = 40 mg/m3

Konsentrasi maks 24 jam tidak lebih sekali dlm setahun = 15 mg/m3.

Total partikulat tersuspensi dapat diukur dengan menggunakan alat sampler high-volume dan analisis gravimetrik material yang tersaring.

PENDUGAAN DAMPAK:

Sumber utama partikulat dalam kaitannya dengan proyek (pembangunan sumberdaya air) adalah emisi dari pembukaan lahan dan aktivitas konstruksi lainnya. Untuk mengukur peubah ini dalam kondisi lingkungan yang ada, tim interdisiplin harus menghimpun informasi tentang konsentrasi partikulat di lokasi proyek, serta mengikhtisarkan data inventory emisi di sekitarnya. Konsentrasi partikulat yang ada dapat dibandingkan dengan baku mutu udara ambient yang berlaku. Pendugaan dampak akan mempertimbangkan kontribusi potensial dari proyek terhadap inventori emisi partikulat secara regional. Hal seperti ini lazimnya disebut pendugaan dampak sekala meso. Faktor emisi partikulat untuk aktivitas pembukaan lahan dan aktivitas konstruksi lainnya dapat digunakan, karena keduanya ada dalam “Air Pollution Emission Factors” (1973). Kontribusi proyek terhadap inventory emisi partikulat dapat dinyatakan dalam persentase, dan kurva fungsional berikut ini dapat digunakan. Harus juga dipertimbangkan partikulat yang mungkin berasal dari pertumbuhan skeunder di lokasi proyek, termasuk pertambahan penduduk dan perkembangan industri.

Kalau persentas epeningkatan inventory emisi regional lebih dari 5%, atau kalau konsnetrasi partikulat yang telah ada dalam atmosfer mendekati baku mutu udara, maka harus dilakukan perhitungan khusus terhadap konsentrasi partikulat di permukaan tanah. Hal seperti ini lazimnya disebut pendugaan dampak sekala mikro. Persamaan difusi atmosferik telah tersedia di berbagai referensi ilmiah, termasuk Turner (1969). Konsentrasi partikulat di permukaan tanah dlaam kondisi cuaca “worst” harus dibandingkan dengan baku mutu udara ambient yang berlaku. Kurva fungsional untuk pendugaan sekala mikro didasarkan pada kenyataan bahwa efek partikulat terhadap kualitas lingkungan berkisar dari problematik visibilitas hingga gangguan kesehatan. Penurunan visibilitas terjadi pada konsentrasi serendah 25 mg/m3. Kalau konsentrasi partikulat meningkat hingga sekitar 200 mg/m3 , kesehatan manusia mulai terganggu. Konsentrasi ini semuanya menyatakan rata-rata selama 24 jam. Konsentrasi partikulat kurang dari 25 mg/m3 dianggap tidak penting bagi kualitas lingkungan karena mereka akan menjadi inti konsensasi pembentukan titik-titik kabut dan awan.

KURVA FUNGSIONAL: SEKALA MESO

A = Laporan pendugaan dampak meso-scale

B = Laporan pendugaan dampak meso-scale, memperhatikan pelaksanaan pendugaan dampak meso-scale

C = Laporan pendugaan dampak meso-scale, melaksanakan pendugaan dampak meso-scale

INDEKS Kualitas

1.0

0.67

A

0.33 B

C

0.00

0 2.5 5.0

Peningkatan emisi regional (%)


Kurva Fungsional: Sekala Mikro

Indeks Kualitas

1.0




0.8




0.6

0.4

0.2

Rataan 24 jam ( m g/m3)

0.0

0 100 200 300 400 500

PERHATIAN KHUSUS

Penerapan konsep sekala meso harus didasarkan pada pembahasan dengan kantor BAPEDAL, Pendugaan dampak sekala mikro diperlukan selama masa konstruksi proyek.

SUB-KATEGORI: KUALITAS

VARIABEL : FAKTOR DIFUSI

DEFINISI DAN PENGUKURAN KONDISI AWAL

Faktor difusi merupakan istilah-umum yang digunakan untuk mendeskripsikan potensi dispersi atmosferik di suatu daerah. Parameter yang dapat berfungsi sebagai indikator bagi kemampuan difusi/dispersi adalah episode-day. Suatu episode-day dapat didefinisikan menurut “mixing height”, rataan kecepatan angin dalam lapisan pencampuran, derajat presipitasi, dan periode waktu persistensi. Holzworth (1972) menyediakan informasi yang bagus mengenai episode-day di USA. Telah berhasil dipetakan ISOPLETH total banyaknya episode-day dalam liuma tahun dengan mixing-height sama dengan atau kurang dari 500 m, dengan kecepatan angin sama atau kurang dari 4 m per detik, dan tidak ada hujan selama dua hari terakhir.

PENDUGAAN DAMPAK:

Pengukuran peubah ini akan melibatkan penggunaan peta ISOPLETH yang menunjukkan episode-day. Perkiraan harus dilakukan utnuk mengetahui banyaknya episode-day yang terjadi di daerah proyek dan sekitarnya selama periode lima tahun. Pendugaan dampak proyek terhadap jumlah epiosde-day akan melibatkan pertimbangan kualitatif apakah peribahan klimatologis potensial seperti peningkatan lembab nisbi akan menyebabkan kondisi cuaca berubah secara drastis untuk dapat meningkatkan jumlah episode-day (memperendah potensi dispersi atmosferik).

KURVA FUNGSIONAL

INDEKS Kualitas




1.0

0.75




0.50




0.25

0.00

0 5 25 50 100

Episode-hari dalam periode lima tahun

A = Laporan pendugaan dampak meso-scale

B = Laporan pendugaan dampak meso-scale, memperhatikan pelaksanaan pendugaan dampak meso-scale

C = Laporan pendugaan dampak meso-scale, melaksanakan pendugaan dampak meso-scale

PERHATIAN KHUSUS

Peubah ini sangat potensial digunakan dalam kaitannya dengan seleksi lokasi, akan tetapi biasanya informasi yang tersedia sangat langka.

SUMBER PENCEMAR UDARA

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa 70 persen penduduk kota di dunia pernah sesekali menghirup udara yang tidak sehat, sedangkan 10 persen lain menghirup udara yang bersifat "marjinal". Tetapi bahkan di AS, yang tingkat pencemaran udaranya cenderung jauh lebih rendah daripada di kota-kota di negara berkembang, studi oleh para peneliti di Universitas Harvard menunjukkan bahwa kematian akibat pencemaran udara berjumlah antara 50.000 dan 100.000 per tahun.

Pencemaran lebih mempengaruhi anak-anak daripada orang dewasa, dan anak-anak miskin yang terpajan pada lebih banyak jenis polutan dan tingkat pencemaran yang lebih tinggi adalah yang paling terpengaruh. Studi telah membuktikan bahwa anak-anak yang tinggal di kota dengan tingkat pencemaran udara lebih tinggi mempunyai paru-paru lebih kecil, lebih sering tidak bersekolah karena sakit, dan lebih sering dirawat di rumah sakit. Rendahnya berat badan anak-anak dan kecilnya organ-organ pertumbuhan mereka memberi risiko yang lebih tinggi pula bagi mereka. Demikian pula kebiasaan mereka; bayi menghisap sembarang benda yang tercemar, anak-anak yang lebih besar bermain-main di jalanan yang dipenuhi asap kendaraan dan buangan hasil pembakaran bermuatan timah.

Pada 1980, misalnya, kota industri Cubatao, Brasilia, melaporkan bahwa sebagai akibat pencemaran udara, 40 dari setiap 1000 bayi yang lahir di kota itu meninggal saat dilahirkan, 40 yang lain kebanyakan cacat, meninggal pada minggu pertama hidupnya. Pada tahun yang sama, dengan 80.000 penduduk,Cubatao mengalami sekitar 10.000 kasus medis darurat yang meliputi TBC, pneumonia, bronkitis, emphysema, asma, dan penyakit-penyakit pernapasan lain.

Di kota metropolitan Athena, Yunani, tingkat kematian melonjak 500 persen di hari-hari yang paling tercemari. Bahkan di daerah-daerah yang jauh dari fasilitas industri, pencemaran udara juga dapat menyebabkan kerusakan. Di daerah-daerah hutan tropis di Afrika, misalnya, para ilmuwan melaporkan adanya tingkat hujan asam dan kabut asap yang sama tingginya dengan di Eropa Tengah, kemungkinan karena pembakaran rutin padang rumput untuk melapangkan tanah.

Contoh-contoh nyata seperti ini telah mempercepat usaha di seluruh dunia untuk mengatasi pencemaran udara perkotaan.

Bahan Pencemar Udara Khusus

Sejak tahun 1970-an, kebijakan pencemaran udara AS cenderung berpusat pada pengendalian beberapa jenis polutan perkotaan yang serius: partikulat zat yang mengandung partikel (asap dan jelaga), hidrokarbon, sulfur dioksida, nitrogen oksida, ozon (asap kabut fotokimiawi), karbon monoksida dan timah.

Karbon monoksida. WHO telah membuktikan bahwa karbon monoksida yang secara rutin mencapai tingkat tak sehat di banyak kota dapat mengakibatkan kecilnya berat badan janin, meningkatnya kematian bayi dan kerusakan otak, bergantung pada lamanya seorang wanita hamil terpajan, dan bergantung pada kekentalan polutan di udara.

Asap kendaraan merupakan sumber hampir seluruh karbon monoksida yang dikeluarkan di banyak daerah perkotaan. Karena itu strategi penurunan kadar karbon monoksida yang berhasil bergantung terutama pada pengendalian emisi otomatis seperti pengubah kalitis, yang mengubah sebagian besar karbon monoksida menjadi karbon dioksida. Kendali semacam itu secara nyata telah menurunkan emisi dan kadar konsentrasi karbon monoksida yang menyelimuti kota-kota di seluruh dunia industri: di Jepang, tingkat kadar karbon monoksida di udara menurun sampai 50 persen antara tahun 1973 dan 1984, sementara di AS tingkat karbon monoksida turun 28 persen antara tahun 1980 dan 1989, walaupun terdapat kenaikan 39 persen untuk jarak kilometer yang ditempuh. Namun kebanyakan dunia negara berkembang mengalami kenaikan tingkat karbon monoksida, seiring dengan pertambahan jumlah kendaraan dan kepadatan lalu lintas. Perkiraan kasar dari WHO menunjukkan bahwa konsentrasi karbon monoksida yang tidak sehat mungkin terdapat pada paling tidak separo kota di dunia.

Nitrogen Oksida. Nitrogen oksida yang terjadi ketika panas pembakaran menyebabkan bersatunya oksigen dan nitrogen yang terdapat di udara memberikan berbagai ancaman bahaya. Zat nitrogen oksida ini sendiri menyebabkan kerusakan paru-paru. Setelah bereaksi di atmosfer, zat ini membentuk partikel-partikel nitrat amat halus yang menembus bagian terdalam paru-paru. Partikel-partikel nitrat ini pula, jika bergabung dengan air baik air di paru-paru atau uap air di awan akan membentuk asam. Akhirnya zat-zat oksida ini bereaksi dengan asap bensin yang tidak terbakar dan zat-zat hidrokarbon lain di sinar matahari dan membentuk ozon rendah atau "smog" kabut berwarna coklat kemerahan yang menyelimuti sebagian besar kota di dunia.

Sulfur Dioksida. Emisi sulfur dioksida terutama timbul dari pembakaran bahan bakar fosil yang mengandung sulfur terutama batubara yang digunakan untuk pembangkit tenaga listrik atau pemanasan rumah tangga. Sistem pemantauan lingkungan global yang disponsori PBB memperkirakan bahwa pada 1987 dua pertiga penduduk kota hidup di kota-kota yang konsentrasi sulfur dioksida di udara sekitarnya di atas atau tepat pada ambang batas yang ditetapkan WHO. Gas yang berbau tajam tapi tak bewarna ini dapat menimbulkan serangan asma dan, karena gas ini menetap di udara, bereaksi dan membentuk partikel-partikel halus dan zat asam.

Benda Partikulat. Zat ini sering disebut sebagai asap atau jelaga; benda-benda partikulat ini sering merupakan pencemar udara yang paling kentara, dan biasanya juga paling berbahaya. Sistem Pemantauan Lingkungan global yang disponsori PBB memperkirakan pada 1987 bahwa 70 persen penduduk kota di dunia hidup di kota-kota dengan partikel yang mengambang di udara melebihi ambang batas yang ditetapkan WHO.

Sebagian benda partikulat keluar dari cerobong pabrik sebagai asap hitam tebal, tetapi yang paling berbahaya adalah "partikel-partikel halus" butiran-butiran yang begitu kecil sehingga dapat menembus bagian terdalam paru-paru. Sebagian besar partikel halus ini terbentuk dengan polutan lain, terutama sulfur dioksida dan oksida nitrogen, dan secara kimiawi berubah dan membentuk zat-zat nitrat dan sulfat. Di beberapa kota, sampai separo jumlah benda partikulat yang disebabkan ulah manusia terbentuk dari perubahan sulfur dioksida menjadi partikel sulfat di atmosfer. Di kota-kota lain, zat-zat nitrat yang terbentuk dari proses yang sama dari oksida-oksida nitrogen dapat membentuk sepertiga atau lebih benda partikulat.

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR

Industri primer pengolahan hasil hutan merupakan salah satu penyumbang limbah cair yang berbahaya bagi lingkungan. Bagi industri-industri besar, seperti industri pulp dan kertas, teknologi pengolahan limbah cair yang dihasilkannya mungkin sudah memadai, namun tidak demikian bagi industri kecil atau sedang. Namun demikian, mengingat penting dan besarnya dampak yang ditimbulkan limbah cair bagi lingkungan, penting bagi sektor industri kehutanan untuk memahami dasar-dasar teknologi pengolahan limbah cair.

Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian lingkungan. Apapun macam teknologi pengolahan air limbah domestik maupun industri yang dibangun harus dapat dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat setempat. Jadi teknologi pengolahan yang dipilih harus sesuai dengan kemampuan teknologi masyarakat yang bersangkutan.

Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya telah dicoba dan dikembangkan selama ini. Teknik-teknik pengolahan air buangan yang telah dikembangkan tersebut secara umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan:

1. pengolahan secara fisika

2. pengolahan secara kimia

3. pengolahan secara biologi

Untuk suatu jenis air buangan tertentu, ketiga metode pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara sendiri-sendiri atau secara kombinasi.

Pengolahan Secara Fisika

Pada umumnya, sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air buangan, diinginkan agar bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan yang mudah mengendap atau bahan-bahan yang terapung disisihkan terlebih dahulu. Penyaringan (screening) merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar. Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara mudah dengan proses pengendapan. Parameter desain yang utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan mengendap partikel dan waktu detensi hidrolis di dalam bak pengendap.
Shantybio - Biology Resources
Gambar 1. Skema Diagram Pengolahan Fisik

Proses flotasi banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan yang mengapung seperti minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses pengolahan berikutnya. Flotasi juga dapat digunakan sebagai cara penyisihan bahan-bahan tersuspensi (clarification) atau pemekatan lumpur endapan (sludge thickening) dengan memberikan aliran udara ke atas (air flotation). Proses filtrasi di dalam pengolahan air buangan, biasanya dilakukan untuk mendahului proses adsorbsi atau proses reverse osmosis-nya, akan dilaksanakan untuk menyisihkan sebanyak mungkin partikel tersuspensi dari dalam air agar tidak mengganggu proses adsorbsi atau menyumbat membran yang dipergunakan dalam proses osmosa. Proses adsorbsi, biasanya dengan karbon aktif, dilakukan untuk menyisihkan senyawa aromatik (misalnya: fenol) dan senyawa organik terlarut lainnya, terutama jika diinginkan untuk menggunakan kembali air buangan tersebut. Teknologi membran (reverse osmosis) biasanya diaplikasikan untuk unit-unit pengolahan kecil, terutama jika pengolahan ditujukan untuk menggunakan kembali air yang diolah. Biaya instalasi dan operasinya sangat mahal.

Pengolahan Secara Kimia

Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa fosfor, dan zat organik beracun; dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan. Penyisihan bahan-bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat bahan-bahan tersebut, yaitu dari tak dapat diendapkan menjadi mudah diendapkan (flokulasi-koagulasi), baik dengan atau tanpa reaksi oksidasi-reduksi, dan juga berlangsung sebagai hasil reaksi oksidasi.
Shantybio - Biology Resources
Gambar 2. Skema Diagram pengolahan Kimiawi

Pengendapan bahan tersuspensi yang tak mudah larut dilakukan dengan membubuhkan elektrolit yang mempunyai muatan yang berlawanan dengan muatan koloidnya agar terjadi netralisasi muatan koloid tersebut, sehingga akhirnya dapat diendapkan. Penyisihan logam berat dan senyawa fosfor dilakukan dengan membubuhkan larutan alkali (air kapur misalnya) sehingga terbentuk endapan hidroksida logam-logam tersebut atau endapan hidroksiapatit. Endapan logam tersebut akan lebih stabil jika pH air > 10,5 dan untuk hidroksiapatit pada pH > 9,5. Khusus untuk krom heksavalen, sebelum diendapkan sebagai krom hidroksida [Cr(OH)3], terlebih dahulu direduksi menjadi krom trivalent dengan membubuhkan reduktor (FeSO4, SO2, atau Na2S2O5).


Penyisihan bahan-bahan organik beracun seperti fenol dan sianida pada konsentrasi rendah dapat dilakukan dengan mengoksidasinya dengan klor (Cl2), kalsium permanganat, aerasi, ozon hidrogen peroksida. Pada dasarnya kita dapat memperoleh efisiensi tinggi dengan pengolahan secara kimia, akan tetapi biaya pengolahan menjadi mahal karena memerlukan bahan kimia.

Pengolahan secara biologi

Semua air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi. Sebagai pengolahan sekunder, pengolahan secara biologi dipandang sebagai pengolahan yang paling murah dan efisien. Dalam beberapa dasawarsa telah berkembang berbagai metode pengolahan biologi dengan segala modifikasinya.
Pada dasarnya, reaktor pengolahan secara biologi dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu:

1. Reaktor pertumbuhan tersuspensi (suspended growth reaktor);
2. Reaktor pertumbuhan lekat (attached growth reaktor).

Di dalam reaktor pertumbuhan tersuspensi, mikroorganisme tumbuh dan berkembang dalam keadaan tersuspensi. Proses lumpur aktif yang banyak dikenal berlangsung dalam reaktor jenis ini. Proses lumpur aktif terus berkembang dengan berbagai modifikasinya, antara lain: oxidation ditch dan kontak-stabilisasi. Dibandingkan dengan proses lumpur aktif konvensional, oxidation ditch mempunyai beberapa kelebihan, yaitu efisiensi penurunan BOD dapat mencapai 85%-90% (dibandingkan 80%-85%) dan lumpur yang dihasilkan lebih sedikit. Selain efisiensi yang lebih tinggi (90%-95%), kontak stabilisasi mempunyai kelebihan yang lain, yaitu waktu detensi hidrolis total lebih pendek (4-6 jam). Proses kontak-stabilisasi dapat pula menyisihkan BOD tersuspensi melalui proses absorbsi di dalam tangki kontak sehingga tidak diperlukan penyisihan BOD tersuspensi dengan pengolahan pendahuluan.

Kolam oksidasi dan lagoon, baik yang diaerasi maupun yang tidak, juga termasuk dalam jenis reaktor pertumbuhan tersuspensi. Untuk iklim tropis seperti Indonesia, waktu detensi hidrolis selama 12-18 hari di dalam kolam oksidasi maupun dalam lagoon yang tidak diaerasi, cukup untuk mencapai kualitas efluen yang dapat memenuhi standar yang ditetapkan. Di dalam lagoon yang diaerasi cukup dengan waktu detensi 3-5 hari saja.
Di dalam reaktor pertumbuhan lekat, mikroorganisme tumbuh di atas media pendukung dengan membentuk lapisan film untuk melekatkan dirinya. Berbagai modifikasi telah banyak dikembangkan selama ini, antara lain:

1. trickling filter
2. cakram biologi
3. filter terendam
4. reaktor fludisasi

Seluruh modifikasi ini dapat menghasilkan efisiensi penurunan BOD sekitar 80%-90%.
Ditinjau dari segi lingkungan dimana berlangsung proses penguraian secara biologi, proses ini dapat dibedakan menjadi dua jenis:

1. Proses aerob, yang berlangsung dengan hadirnya oksigen;
2. Proses anaerob, yang berlangsung tanpa adanya oksigen.

Apabila BOD air buangan tidak melebihi 400 mg/l, proses aerob masih dapat dianggap lebih ekonomis dari anaerob. Pada BOD lebih tinggi dari 4000 mg/l, proses anaerob menjadi lebih ekonomis.
Shantybio - Biology Resources
Gambar 3. Skema Diagram pengolahan Biologi

Dalam prakteknya saat ini, teknologi pengolahan limbah cair mungkin tidak lagi sesederhana seperti dalam uraian di atas. Namun pada prinsipnya, semua limbah yang dihasilkan harus melalui beberapa langkah pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan atau kembali dimanfaatkan dalam proses produksi, dimana uraian di atas dapat dijadikan sebagai acuan. [DAW]

Rumah Sehat

Rumah pada dasarnya merupakan tempat hunian yang sangat penting bagi kehidupan setiap orang. Rumah tidak sekedar sebagai tempat untuk melepas lelah setelah bekerja seharian, namun didalamnya terkandung arti yang penting sebagai tempat untuk membangun kehidupan keluarga sehat dan sejahtera. Rumah yang sehat dan layak huni tidak harus berwujud rumah mewah dan besar namun rumah yang sederhana dapat juga menjadi rumah yang sehat dan layak dihuni Rumah sehat adalah kondisi fisik, kimia, biologi didalam rumah dan perumahan sehingga memungkinkan penghuni atau masyarakat memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Untuk menciptakan rumah sehat maka diperlukan perhatian terhadap beberapa aspek yang sangat berpengaruh, antara lain: rumah-sehat1

1. Sirkulasi udara yang baik.

2. Penerangan yang cukup.

3. Air bersih terpenuhi.

4. Pembuangan air limbah diatur dengan baik agar tidak menimbulkan pencemaran.

5. Bagian-bagian ruang seperti lantai dan dinding tidak lembab serta tidak terpengaruh pencemaran seperti bau, rembesan air kotor maupun udara kotor.

Persyaratan Kesehatan Rumah Tinggal menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 829/Menkes/SK/VII/1999 adalah sebagai berikut:

1. Bahan Bangunan

a. Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan zat-zat yang dapat membahayakan kesehatan, antara lain sebagai berikut :

· Debu Total tidak lebih dari 150 µg m3

· Asbes bebas tidak melebihi 0,5 fiber/m3/4jam

· Timah hitam tidak melebihi 300 mg/kg

b. Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme patogen.

2. Komponen dan penataan ruang rumah

Komponen rumah harus memenuhi persyaratan fisik dan biologis sebagai berikut:

a. Lantai kedap air dan mudah dibersihkan

b. Dinding

· Di ruang tidur, ruang keluarga dilengkapi dengan sarana ventilasi untuk pengaturan sirkulasi udara

· Di kamar mandi dan tempat cuci harus kedap air dan mudah dibersihkan

c. Langit-langit harus mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan

d. Bumbung rumah yang memiliki tinggi 10 meter atau lebih harus­ dilengkapi dengan penangkal petir

e. Ruang di dalam rumah harus ditata agar berfungsi sebagai ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, ruang tidur, ruang dapur, ruang mandi dan ruang bermain anak.

f. Ruang dapur harus dilengkapi dengan sarana pembuangan asap.

3. Pencahayaan

Pencahayaan alam atau buatan langsung atau tidak langsung dapat menerangi seluruh bagian ruangan minimal intensitasnya 60 lux dan tidak menyilaukan.

4. Kualitas Udara

Kualitas udara di dalam rumah tidak melebihi ketentuan sebagai berikut :

a. Suhu udara nyaman berkisar antara l8°C sampai 30°C

b. Kelembaban udara berkisar antara 40% sampai 70%

c. Konsentrasi gas SO2 tidak melebihi 0,10 ppm/24 jam

d. Pertukaran udara

e. Konsentrasi gas CO tidak melebihi 100 ppm/8jam

f. Konsentrasi gas formaldehide tidak melebihi 120 mg/m3

5. Ventilasi

Luas penghawaan atau ventilasi a1amiah yang permanen minimal 10% dari luas lantai.

6. Binatang penular penyakit

Tidak ada tikus bersarang di rumah.

7. Air

a. Tersedia air bersih dengan kapasitas minmal 60 lt/hari/orang

b. Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan air bersih dan air minum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

8. Tersediannya sarana penyimpanan makanan yang aman dan hygiene.

9. Limbah

a. Limbah cair berasal dari rumah, tidak mencemari sumber air, tidak menimbulkan bau dan tidak mencemari permukaan tanah.

b. Limbah padat harus dikelola agar tidak menimbulkan bau, tidak menyebabkan pencemaran terhadap permukaan tanah dan air tanah.

10. Kepadatan hunian ruang tidur

Luas ruang tidur minimal 8m2 dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari dua orang tidur dalam satu ruang tidur, kecuali anak dibawah umur 5 tahun.

Masalah perumahan telah diatur dalam Undang-Undang pemerintahan tentang perumahan dan pemukiman No.4/l992 bab III pasal 5 ayat l yang berbunyi “Setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan atau menikmati dan atau memiliki rumah yang layak dan lingkungan yang sehat, aman , serasi, dan teratur”

Bila dikaji lebih lanjut maka sudah sewajarnya seluruh lapisan masyarakat menempati rumah yang sehat dan layak huni. Rumah tidak cukup hanya sebagai tempat tinggal dan berlindung dari panas cuaca dan hujan, Rumah harus mempunyai fungsi sebagai :

1. Mencegah terjadinya penyakit

2. Mencegah terjadinya kecelakaan

3. Aman dan nyaman bagi penghuninya

4. Penurunan ketegangan jiwa dan sosial

Sumber:

Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 829 Menkes SK/VII/1999 Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan

Ditjen P2MPLM, Petunjuk Tentang Perumahan dan Lingkungan Serta Penggunaan Kartu Rumah, 1995